Mereka dan Tugu Jogja



di 19122013 malam….

…malam ini malam terakhir bagi kita untuk mencurahkan rasa rindu di dada… #hormatsayakepadabangrhomadanmbakelvi

Yeahhh…itu malam terakhir kami berlima ngumpul di taun 13 ini, meskipun paginya teteeeppp futsal bareng…;)
Nggak ada rencana matang buat kami untuk nongkrong malam itu (lha wong kalo direncanain biasanya malah gagal…), hanya kompensasi dari beragam letupan-letupan isi kepala yang pengin dikeluarkan. (apa siiihhh…!!!!).


mereka terlihat sangat ganteng ketika difoto blur gini...:)


Kawan, saya akan kenalkan teman-teman asyik malam itu…

Bay, anak muda vegetarian, pecinta tantangan dan pola hidup sehat lima sempurna - Seorang backpaker sejati yang mungkin baru akan mendapatkan kepuasan kalo dia sudah melakukan backpacking ke planet saturnus (oeee, disana belum ada masjid yang bisa buat numpang tidur Bay...)
Lauren, sosok alim nan baik hati yang oleh banyak orang dianggap sebagai outlayer bagi 'kaum'-nya. Dia menjadi patokan kejujuran bagi orang yang putus asa ketika menghadapi para biadab-biadap di kelas kami.
Cak Choz, jejaka perfeksionis pecinta wanita, idola kaum hawa. Alim dan dermawan sehingga dijuluki "Juragan Gocengan" dengan memberikan insentif 5000 perak kepada teman makannya. Meskipun sebenarnya itu semua hanya bohong...! ("Ngerti nggak maksud saya?" #AM)
Sihotang, saya deskripsikan secara singkat saja: laki-laki yang ganas ketika lapar…;)

Pertemuan ini sama tidak direncanakan, hanya terbesit sekilas ketika saya sedang nyuci piring bekas makan mangga dua hari sebelumnya, bekas tempat berpesta pora lalat, semut dan saudara-saudaranya. Kontak satu dua teman, dan berangkaattt….!


Destinasi pertama dan utama adalah Warung Kopi Jos Lek Man, sebelah utara rel Stasiun Tugu. Dinamakan kopi jos karena itu kopi sesaat sebelum dihidangkan ke penikmatnya, dicemplungi bara arang yang tentunya menimbulkan suara, "jossss", bukan "ting" yang memang kalo suara macam ini sepertinya udah diakuisisi oleh ibu setengah tua dan berambut keriting nan seksi dari manado dalam iklan pemilu jaman Pak Harto masih berkuasa. "Inga inga…TING…!!!"
Selain karena suara 'josss' tadi memang nih kopi ini berasa jos tenan, meskipun saya juga ngga tau, sebenernya arang yang dicemplungin itu itu arang macam apa…;).

Kita lanjutkan.

Setelah bernasib seperti monyet kena ketapel di kuping sebelah (halah….lebay) karena menunggu mereka berempat datang, akhirnya manusia-manusia itu menampakkan batang jempolnya. Seperti biasa, mereka datang dengan cengengesan, kecuali Sihotang yang udah kayak Hotman abis berantem sama Ruhut, tanpa sebab musabab jelas langsung mengeluarkan suara-suara aneh bernada marah-marah (ini sih kita semua maklum, bawaan orok cuy….). Oke, kita kasih makan dan dia diam. Cukup!

Ditemani kopi jos, jahe susu panas, gorengan dan sega kucing, plus diselingi tiga kali tunggang langgang pindah-pindah dari trotoar ke bawah tenda karena hujan, maka obrolan bergulir. Bisa ditebak, sangat bisa ditebak….salah satu bahan pembicaraan tidak akan jauh dari masa depan Cak Chos. Lelaki kaya pecinta pakaian bermerk mahal yang sayangnya sampai saat ini belum menemukan teman tidur selain guling, bantal dan selimut. Teman tidur semacam guling yang bisa kentut gituuu....
Obrolan berlanjut dengan usaha memprovokasi Pak Dosen (salah satu teman sekelas yang memang penampakannya seperti dosen - alternatif panggilan kalo nggak mau nyebut dia tua eh senior...hihi... piss Mas Nunung), untuk ikut futsal besok siangnya (pada akhirnya provokasi berhasil dan berhasil juga membuat kambuh sakit pinggangnya selama tiga hari).


inilah penampakan kopi jos itu....
dan ini penampakan dari korban keberingasan salah satu dari kami - yaitu saya sendiri..;)....sega kucing sambel teri + sate usus

Sudah.
Perjalanan dilanjutkan ke…. (bingung).
Oke, kita ke Golong Gilig? Tahukah kawan, bahwa "Tugu Golong Gilig" inilah nama asli dari bangunan yang kalian sebut sebagai "Tugu Jogja" selama ini. Landmark Jogja yang sejak tahun 1756 tetap setia berdiri di tengah-tengah jalan Mangkubumi, Sudirman, Diponegoro, dan AM Sangaji Itu. 


Niat hati sih berlima mau foto bareng di depan tugu dengan bantuan Mas Tripod, lumayan untuk kenang-kenangan bahwa mereka pernah hidup setaun lebih di kota asyik ini. Tapi…..kenangan saat minum kopi jos muncul lagi, kenangan buruk bagi mereka berempat. HUJAN.
 

Tapi maaf, ini berkah buat saya. Karena, entah kenapa, sejak dulu saya pengin motret tugu tanpa ada manusia-manusia mejeng di depan tugu. Segala usaha sudah saya lakukan untuk mendapatkan momen tugu sedang berdiri sendiri tanpa gangguan anak-anak lebay yang nongkrong di depannya: usaha pertama, mendatangi tugu tepat jam 00.00 WIB - masih banyak ABG labil bersepeda bercandaria di depan bangunan megah itu. Usaha kedua, datang jam dua dinihari....halahhh!! masih ada sekitar sepuluh orang pemain skateboard meronda tepat di bawah kaki tugu. Usaha ketiga: sesaat sebelum adzan subuh. Eeeala kok ya bisa-bisanya jam segini udah ada orang foto prewed sama tugu eh di tugu….:(.
Dan ternyata saudara-saudara...! Momen impian itu saya dapatkan malam itu, tanpa sengaja. Dalam hati dan penuh emosional (huachiii..!), saya menantang orang-orang tadi….siapa yang berani maen sepeda, skateboarding & foto prewed sekarang? Pas hujan lebat kayak gini…? Hahaaaa…I got it...tuinggg! (#emotionsetan) - tapi sekali lagi kawan, tantangan itu hanya saya sampaikan dalam hati saja... #wedidiantemi

Apapun hasilnya, yang penting saya bisa mencapai impian itu, motret tugu tanpa ada orang-orang berada di bawahnya. Itu saja. Sekali lagi, apapun dan bagaimanapun hasil foto itu….




Hujan semakin deras, setelah cukup puas motret tugu tanpa penghuni dibawahnya, saya akhirnya menyusul empat teman yang telah mengevakuasi diri di bawah pos polisi kecil di pojok jalan.
Dan ternyata, selain keempat teman saya yang imut itu (mendadak berubah menjadi imut karena kedinginan, sehingga 'mengkeret' #bahasaindonesianyapa?), di dalam telah duduk manis dua bapak yang telah lebih dulu berada di pos yang bau pesingnya ngalahin bau pesingnya toilet-toilet umum di stadion sepakbola itu. Seperti biasanya, di dalam sana terduduk Lauren yang diam seperti memaknai setiap butir air yang turun dari atap yang sedikit bocor itu. Bay, diam juga dengan mata menjurus ke segala arah - prototipe anak muda berjiwa petualang yang selalu pengin lihat sesuatu yang baru...syukur-syukur ketemu jodoh...eaaaa. Cak Chos diam juga, sepertinya dia sedang tenggelam dalam keindahan yang ada di dalam tablet mutakhirnya. Sihotang, dia diam juga, mungkin dia sedang menyusun strategi membuat keonaran di lapangan futsal besok harinya. Dari situ saya tau bahwa selain makan, satu hal yang bisa membuat lelaki Sibolga ini jadi pendiam: hujan deras…:D


Ahhh…ternyata mereka diam dalam kesibukannya masing-masing demi mengalihkan perhatian dari pidato salah satu dari dua bapak tadi yang bertema "Nasi Padang, Jogja, dan Keruwetan Politik Indonesia". Sekilas saya mendengar sang bapak bercerita ke teman-temanku yang berasal dari luar Jogja ini, bahwa dulu sekitar 10-15 tahun yang lalu...Jogja sepi dari rumah makan, yang ada cuma rumah makan padang aja. Di sekitar tugu ini cuma rumah makan padang aja katanya. Hoiiii Pak, trus mau dikemanakan itu itu itu penjual2 gudeg di trotoar yang bahkan udah buka dari jam 3 dinihari? Ngarang kok kebangetan sih Pak....:(. Ah sudahlah....
Untung temen-temenku bijaksana (atau takut?). Mereka cuma manthuk-manthuk aja dikibulin tuh Bapak.


Saya mencoba mendekat, mendekat, dan mendekat….dan saat itu pula saya menjauh dan keluar kabur dari pos polisi mungil itu, disusul Bay. Saya mending berbasah-basah daripada tetap berada di dalam ruang 2X2 meter itu, dan pingsan. Kenapa….? tiiiitttttttttttttt……….. #censored
.
.
.
.
.
(masih ada cerita di paragraf ini)
.
.
.
.
.
Tepat jam 00.00 WIB, hujan mulai reda….
Kita pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar